Indah

Memulai cerita hari ini dengan sebuah kata terindah. "Perjuangan"

Senin, 02 April 2012

Tips malas olahraga

Mengatasi Malas Berolahraga


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Seribu satu alasan keluar dari mulut ketika dihadapkan dengan aktivitas 'olahraga'! "Wah saya enggak punya waktu", "sibuk banget", "gak mampu bayar membership gym", "bosan lari di treadmill", dan berbagai kalimat lainnya untuk menghindar berolahraga. Akhirnya, pilihan jatuh dengan bermalas-malasan di sofa.
"Setiap oang punya alasan untuk mengatakan tidak untuk berolahraga," ujar Rachel Cosgrove, penulis buku 'The Female Body Breakthrough', pemilik Result Fitness dan kolumnis untuk 'Woman's Heatlh Magazine'.
So, lanjut dia, masalahnya adalah pada rumusan mencari motivasi. Apa yang mendorong seseorang berolahraga. Nah, Cosgrove punya jurus yang mungkin bisa diterapkan.
1. Pakai jeans lama
Siapa sih yang nggak panik ketika celana jeans sudah tidak muat lagi dipakai? Jeans sempit menandakan berat badan naik. Dengan mencoba jeans lama menjadi indicator berat badan sebelumnya. Itu bisa menjadi motivasi berolahraga lagi.
2. Tentukan 'cara' bukan 'target'
Alih-alih fokus pada tujuan yang ingin dicapai, lebih baik fokuskan pada cara bagaimana mencapai tujuan tersebut. Fokus pada target berkesan mencapai sesuatu yang sulit lakukan. Tapi fokus pada cara membuat sesuatu mudah dilakukan.
3. Mulai dari hal kecil
Jangan muluk-muluk melakukan kegiatan yang berat untuk dilakukan. Cari sesuatu yang praktis dan mudah diikuti. Cosgrove menyarankan berkomitmen berolahraga dua hari seminggu selama 30 menit. Apabila target tersebut sudah tercapai, cobalah set target yang lebih menantang di minggu berikutnya.
4. Me time
Pastikan punya waktu lowong dengan menuliskan di planner sehingga bisa jadi antisipasi bila terbentur dengan kesibukan.
5. Nge-gym di rumah
Belum siap menjadi anggota pusat kebugaran? Berolahraga di rumah bisa menjadi pilihan. Seperti saran Cosgrove, ruang tamu bisa menjadi tempat yang cocok. Geser beberapa perabotan, lalu di situ bisa melakukan squat, lunges, dan push-up.
6. Keluar rumah
Bangun, bergerak, dan keluar dari rumah. Begitu melangkah keluar dari pintu, itu sudah sama artinya dengan bergerak.
7. Cari pusat kebugaran yang cocok
Meski sudah menjadi member sebuah pusat kebugaran, terkadang masih ada saja alasan membuat malas ke sana. Hal demikikan terjadi karena dapat saja merasa tidak cocok dengan lingkungan dan jenis-jenis latihan yang ditawarkan. So, cari pusat kebugaran yang cocok dengan diri sendiri
8. Teman senasib
Cari teman yang senasib yang tak senang berolahraga tapi ingin melakukannya.
9.Keep it Fresh.
Pastikan tidak bosan berolahraga. Jika rasa bosan, variasikan gerakan, coba hal atau tentukan tujuan yang baru sehingga akan menantang diri sendiri.
10. Tetap Tujuan Baru
Ingat kenapa mau beranjak dari sofa kala itu. Pikirkan kenapa mau melakukannya. "Anda harus memiliki alasan yang kuat kenapa Anda mau melakukannya," kata Cosgrove. Saat memilih bermalas-malasan di sofa coba kembali ke alasan tersebut. (Daniel ngantung)

Nasib/ Takdir


Pagi ini aku kembali bangkit merasa kesakitan dan ingin aku berteriak melihat bunga tidak lagi ada ditangan. Sering aku murka pada Tuhan atas apa yang aku harapkan. Kejanggalan dan kebodohan yang selama ini aku rasakan. Rasa. Kenapa aku memiliki rasa yang bebeda. Mencintai dan dicintai tidak pada semestinya. Ingin dimengerti tapi diriku ini objek atau lebih tepatnya pesuruh untuk mengerti semua benda. Memang sangat lucu ketika semua benda kita bilang sebuah percobaan.

 Tapi kenapa kali ini nasib yang menjadi taruhannya. Nasib dipermainkan dan nasib diperjualbelikan dalam kehidupan. Berontak. Seringkali aku berontak di pagi hari. Namun mengapa ketika si kumbang hilang tanpa ada di asuhan kini aku merintih. Apa aku bisa dibilang pecinta? Pecinta yang tak merindu surga. Karena surga menginginkan kebenaran, tapi kali ini hidupku salah. Hidupku salah dalam menghidupi. Hidupku salah dalam mengarti semua ini. Kecerobohan. Mungkin kata yang tepat dalam mengungkap semua ini. Kecerobohan di pagi hari yang telah aku jalani semenjak ada kumbang berdua disampingku. Disamping tidurku. Ingin aku menghirup nafas yang keluar dari nafas sang kumbang. Ingin aku memeluk, merasakan bahkan menikmatinya. Tapi aku yakin semua ini kesalahan, aku saat ini sedang tidak jalan pada rel yang dulu pernah aku injak. Dan ini kembali lagi sebuah kecerobohan. Kecerobohan memaknai cinta.

Lalu dimana posisi Tuhan berada? Apakah Tuhan hanya hadir sebagai pengamat lalu murka saat kematian datang menjemput kumbang? Atau Tuhan saat ini memberikan sebuah azab atas nama kenikmatan. Sungguh, sungguh aku buta dalam mengartikan semua ini. Buram dalam kenikmatan dan mengetahui dimana posisi Tuhan… Dasar bodoh. Tuhan itu selalu dihati tapi tak menyatu dalam raga ini. Sehingga diri kita selau dibuat terombang ambing dan dipaksa untuk tau keberadaan-Nya. Namun mengapa harapanku hilang pada hidup ini. Ketika melihat sesosok kumbang menjelma seakan Tuhan. Sungguh sangat sempit sekali aku memaknai arti kumbang di hatiku. Mungkin si Bunga ini hanya diciptakan untuk merintih dan dibiarkan untuk berharap pada sebuah cinta yang tak mungkin. Cinta bukan karena Tuhan ketika aku melihat kumbang dihadapanku. Oh Tuhan….. dia mendekatiku. Hati ini mati atau bodoh. Aroma tubuhnya seakan menjelma menjadi setan bukan Tuhan. Aku masih mencari apakah kumbang itu Tuhan atau setan untukku. Karena aku yakin T U H A N dihatiku bukan padanya.

Cinta Sendiri


Takdirku memang selalu bisa mencintai dan berharap pada cinta itu sendiri. Tanpa perduli apakah dy mencintai. Seluruh kata pujangga seakan habis terbuai-buai menampar dinding-dinding kamar yang hampa. Selimut menyadari keadaanku yang semakin sepi tanpa cinta, berani membayangi, menatap pada kekosongan ruang yang pengap dipenuhi kata-kata mutiara. Pujangga sekalipun akan kalah jika harus membuktikan rasa. Dan kudekap selimut dengan kencang agar aku tersadar bahwa kesepian ini bukan hayalan. Ini nyata. Buta tanpa cinta. Satelit mana yg tidak aku gunakan utk memberi sebuah pertanda. Pujangga mana yg tidak aku pakai untuk sebuah ungkapan? Kumelirik jam didinding. Satu jam yang lalu aku memikirkannya. Kubunuh waktuku malam ini dengan berharap bahwa cinta akan datang. Lagi lagi tabu. Kupejamkan mata berharap tuhan mengasihaniku, memberiku sebuah mimpi. Ternyata cinta menuntut sebuah kenyataan. Bunyi detik jam semakin membuat aku percaya bahwa sebenarnya cinta itu tak ada. Jatuh pada pukul berapakah pikiranku akan mengaung? Tersiksa akan sebuah harapan. Bunyi lonceng tiba tiba saja mengalun memberikan aku kenikmatan akan sebuah harapan. Dan akupun terbuai dan mencoba berbincang pada mimpiku malam ini. Akankah besok kabut akan muncul lagi?