Saya jengah dengan segala keadaan yang ada, segala kesepian terus mendera tiada tara. Gelora2 puing puing putik membei sarat akan kutukan pada kelopak bunga yang merintih. Langit sudah murka padaku melalui mendung ini. Aku berada pada titik ketidaksempurnaanku, mengalir dalam setiap ketidak terimaanku dalam perjalanan hidup. Aku lari pada meteorid gesang yang menghempas galak menerjang bumi. Terlalu kasar dan hina.
Sebagian orang beranggapan kalau aku terlalu berani memilih jalan kehidupan ini. Sebagian lagi menghardik akan kebodohan dalam setiap hiruk pikuk detik demi detik tapak kaki dalam pengabdianku pd bumi. Aku ini rapuh dalam senyum canda tawaku. aku rontah dalam kekarnya ranting cemara yang kokoh. aku adalah atom dr bagian unsur2 kehidupan yang tidak sempat memiliki hak untuk menjadi senyawa kemudian musnah. Terlalu pedih membakar setiap kelumit yang ada.
Saat ini, aku mengutuk diriku sendiri. aku tertawa pada kebahagiaan orang2 yang meringis nyinyir dalam penderitaanqu. aku bangga pada binatang2 jalang yang semakin liar dalam merobohkanku. Aku dipaksa terus bersyukur atas nikmat kebahagiaan yang Tuhan berikan. Karena Tuhan memberikan aku keahlian dalam berpura2 bercanda tawa dalam sedu sedan.
Titik mana yang sebenarnya menjadi polemik. Kesendirianku, kepribadianku, keadaanku, atau takdir.
Aku saat ini sedang berjalan diantara ketiganya sambil bertanya-tanya. Mencoba menggertak dg perlakuan bodoh dalam hidup sehingga orang lain hanya tau keburukanku. Aku ini ricuh.
Kenali aku lebih dalam maka engkau akan tau akan kebutuhanku pada hidupku. Kau!
---Anda Telah Memasuki Sebuah Realitas Hidup Saksi Langkah Perjalanan Seorang Pejuang Kehidupan---
Indah
Memulai cerita hari ini dengan sebuah kata terindah. "Perjuangan"
Minggu, 29 November 2015
Selasa, 13 Oktober 2015
Bumi
Cerita renyah antara Langit, Bumi, Angin dan Mataharinya
Tak terbantahkan bahwa saat ini langit memukul keras bumi karena mengutuk. Dan angin menjadi saksi lalu diam karena alasan apatis. Kesendirianku tetap memelukmu dari jauh dan rinduku adalah angin itu. *diam. dari bumi yang masih galau dengan isi hatinya yang porak poranda,
Tak memiliki pilihan untuk bumi berporos dan berevolusi semakin ganas. Hati liar tak waras. kejadian demi kejadian membuat arti pada setiap apa yang dilakukan menjadi usang.
Langit semakin berontak berbisik bisik keras, memekakkan telinga hingga raga dibuat rontah tak berdaya. mataharipun semakin dijauhinya, gelaplah duniaku saat ini. menapak saja rasanya kakiku remah. tangan bergonjang ganjing meraba raba tak berkutik lalu bumi tertunduk. memelas merintih sedih. lalu angin itu semakin terasa menggerayang sukma, memekakkan aliran aliran sungai hingga deras dan bah dimana mana lalu runyamlah isi perutku karena angin itu. angin memang tak berbentuk tapi menusuk menohak rongga hingga hati dibuatnya terbelah segitiga.
Engkaulah Matahariku yang tersenyum malu. namun langit masih menyembunyikanmu untuk menampakkan senyum indahmu dari ku yang masih terbiasa dengan kegelapan. namun angin ini terasa membunuhku karena hembusannya mengarah pada arah kemunculanmu. Haruskah aku menunggu pagi yang kejam itu???
Pukulan demi pukulan dari langit, itu isyarat dari bencana demi bencana yang terjadi dibumi di malam hari. Hingga aku tak memiliki waktu untuk menantimu matahariku. karena bumiku kini porak poranda dan langitku menyuruhku untuk berbenah atas itu. setidaknya terima kasih atas hembusan angin yang kau kirimkan diantara lelahku. meskipun kadang terasa sesak, namun itu aku artikan sebagai sabda sabda atas kerinduanmu. Langitku adalah Tuhan bagi Bumi ku.
Tak terbantahkan bahwa saat ini langit memukul keras bumi karena mengutuk. Dan angin menjadi saksi lalu diam karena alasan apatis. Kesendirianku tetap memelukmu dari jauh dan rinduku adalah angin itu. *diam. dari bumi yang masih galau dengan isi hatinya yang porak poranda,
Tak memiliki pilihan untuk bumi berporos dan berevolusi semakin ganas. Hati liar tak waras. kejadian demi kejadian membuat arti pada setiap apa yang dilakukan menjadi usang.
Langit semakin berontak berbisik bisik keras, memekakkan telinga hingga raga dibuat rontah tak berdaya. mataharipun semakin dijauhinya, gelaplah duniaku saat ini. menapak saja rasanya kakiku remah. tangan bergonjang ganjing meraba raba tak berkutik lalu bumi tertunduk. memelas merintih sedih. lalu angin itu semakin terasa menggerayang sukma, memekakkan aliran aliran sungai hingga deras dan bah dimana mana lalu runyamlah isi perutku karena angin itu. angin memang tak berbentuk tapi menusuk menohak rongga hingga hati dibuatnya terbelah segitiga.
Engkaulah Matahariku yang tersenyum malu. namun langit masih menyembunyikanmu untuk menampakkan senyum indahmu dari ku yang masih terbiasa dengan kegelapan. namun angin ini terasa membunuhku karena hembusannya mengarah pada arah kemunculanmu. Haruskah aku menunggu pagi yang kejam itu???
Pukulan demi pukulan dari langit, itu isyarat dari bencana demi bencana yang terjadi dibumi di malam hari. Hingga aku tak memiliki waktu untuk menantimu matahariku. karena bumiku kini porak poranda dan langitku menyuruhku untuk berbenah atas itu. setidaknya terima kasih atas hembusan angin yang kau kirimkan diantara lelahku. meskipun kadang terasa sesak, namun itu aku artikan sebagai sabda sabda atas kerinduanmu. Langitku adalah Tuhan bagi Bumi ku.
Rabu, 07 Oktober 2015
Mentari Pagi
Tuhan, hari ini saya kembali mengadu. mensyukuri keadaan meskipun tak
kunjung membaik. Setidaknya saya masih melihat indahnya pelangi pagi
ini. dan Engkau memberikan kekuatan untuk menghadapi semua yang Engkau
berikan. Aku merasa semakin tangguh dan kuat atas semua kisah sedih yang
saya alami. Tapi beginilah indahnya pagi ini. Aku masih mendengar suara
burung berkicau dan suara angin berhembus dan menghirup beningnya udara
pagi ini. Tuhan, aku bersyukur pagi ini. terima kasih atas pagi ini.
Aku sejenak melupakan pila dimasa lalu, jerita serta hingar bingar
terlupakan dengan indahnya pagi ini. karena aku bersyukur atas nikmatmu.
Mungkin aku pernah terjatuh begitu sakit dan sedih. Tapi pagi ini
kepalaku ringan karena kata pertama yang keluar dari bibir penuh dusta
ini adalah kalimatMu. Aku tidak pernah lupa mengingatMu atas kebahagiaan
serta kesulitan yang datang. Jawabanku simpel. Karena aku tidak punya
siapa-siapa lagi didunia ini selain Engkau. Termasuk memiliki cinta.

Pagi ini kembali memberikan harapan akan perubahan hidup. Melihat mentari tersenyum meskipun terik mulai merengut. Saya kuat dalam keterpurukan karena kekuatan lahir karena atas dasar keyakinan yang begitu dalam padaMu. Tuhan, terima kasih telah bertahan di hatiku yang busuk ini. Dan terima kasih telah membopong ku dalam kepincangan ini. Ya Tuhan. Pagi ini akan menjadi saksi. Bahwa aku akan menjadi pejuang di hari ini. menggerus mimpi dan melawan semua hambatan. selama kau masih dihati dan membopong kakiku yang lumpuh. Tuhan. Saksikanlah perjuanganku karena namaMu hari ini atas pertolonganMu.

Pagi ini kembali memberikan harapan akan perubahan hidup. Melihat mentari tersenyum meskipun terik mulai merengut. Saya kuat dalam keterpurukan karena kekuatan lahir karena atas dasar keyakinan yang begitu dalam padaMu. Tuhan, terima kasih telah bertahan di hatiku yang busuk ini. Dan terima kasih telah membopong ku dalam kepincangan ini. Ya Tuhan. Pagi ini akan menjadi saksi. Bahwa aku akan menjadi pejuang di hari ini. menggerus mimpi dan melawan semua hambatan. selama kau masih dihati dan membopong kakiku yang lumpuh. Tuhan. Saksikanlah perjuanganku karena namaMu hari ini atas pertolonganMu.
Langganan:
Postingan (Atom)

