Indah

Memulai cerita hari ini dengan sebuah kata terindah. "Perjuangan"

Kamis, 18 April 2013

Pilihan Hidup

Saya tau diri saya


  Ini kisah rekan saya yang akan menjadikan pelajaran bagi kita semua akan mengambill pilihan dalam hidup. Untuk menjadi beda dan bahagia. Silahkan berikan komentarnya.

------------------------------------------------------------------------------------------
Tujuan hidup seperti cita-cita, jodoh dan kematian itu gak ada orang yang tau. Semua rahasia Tuhan. Semua orang berhak merencanakan tujuan hidup. semua orang juga berhak untuk mengarahkan tujuan hidup orang lain. Yah, mengarahkan tapi bukan mengendalikan. Mengarahkan hanya sekedar memberikan saran dari apa yang terbaik terhadap orang lain yang begitu kita kenal dengan baik. Mengendalikan lebih kepada mengharuskan orang lain memilih apa yang kita inginkan hanya sekedar kita menuntut kebenaran atas ego diri yang paling merasa benar.

Untuk sebagian orang demokrasi itu penting. Tapi kadang semua itu harus dituntut dengan rasa percaya yang begitu tinggi hingga demokrasi berjalan dengan seharusnya. Kalau rasa percaya sudah tidak ada, demokrasi ditenggelamkan seolah tak nyata dan yang ada hanya otoritas mengatasnamakan keyakinan dan kebenaran. Kuncinya hanya bagaimana kita membuat orang percaya atas apa yang kita anggap terbaik buat diri kita.

Kenyataannya saat ini saya menjadi seorang seniman. Saya membuka kios baju oleh-oleh di surabaya, Saya sangat mencintai pekerjaan ini meskipun semua keluarga menentang. Saya suka melukis. Saya membuat baju yang terbuat dari bahan kanvas dan saya yang melukis gambar sesuai keinginan saya di atas lembar kaos baju itu. Memang benar, sesuatu yang kita kerjakan dengan senang hati akan menuai kebahagiaan tersendri. kebahagiaan yang tidak terukur dengan apapun. Bukan hanya dengan materi dan keuntungan yang didapat. Tapi karena saya senang melakuka pekerjaan yang saya suka. Saya ikhlas. Semua keluarga saya menentang saya. menentang sebuah keputusan yang sudah saya ambil. Bagaimana bisa seorang lulusan S2 Advokat sebuah universitas ternama, bukannya menjadi seorang pengacara hebat, tapi malah menjadi pengusaha lukisan. Lukis kaos.

Keluarga saya sampai detik ini tidak percaya dan terus menentang atas jalan yang sudah saya ambil. Mengapa? karena semua keluarga saya adalah pengacara hebat di surabaya. Ibu, bapak, kakek, nenek, kakak-kakak serta sepupu, om dan tante adalah seorang pengacara hebat di surabaya. Club lawyer keluarga saya sangat disegani disurabaya. Dari berbagai kasus kecil hingga besar, nasional maupun internasional berhasil diselesaikan dengan baik oleh tim pengacara keluarga saya. itulah yang membuat club lawyer keluarga saya terkenal. Begitupun saya. keluarga saya berharap ketika saya lulus kuliah advokat di UGM (Universitas Gadjah Mada) saya langsung bisa bergabung dalam tim keluarga saya. Tapi langkah itu tidak saya ambil. DAN pastinya keluarga saya pun kecewa, saya rasa saya sudah cukup mengikuti semua otorias dari keluarga saya. mulai dari keinginan saya ingin masuk pesantren ketika SMP ditentang oleh kerluarga akhirnya ayah memasukkan saya ke SMP internasional begitupun ketika SMA. Ketika saya ingin mengambil kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia) mengambil jurusan seni rupa. Ayahpun menentangnya dan terpaksa saya mengikuti keinginan ayah kuliah di UGM dengan jalur PBS (Penelusuran Bakat Skolastik) dengan biaya yang cukup mahal. Selama kuliah saya hanya sekedar menjalani perkuliahan sepertti apa adanya saja, tanpa mendalami. Hingga saya lulus sarjana dan melanjutkan ke profesi advokat. Begitupun di pascasarjana. saya menjalani ini hanya sekedar memenuhi keninginan keluarga saya. yang tak ingin anggota keluarganya tidak menjadi pengacara. Adikku pun saat ini sedang sekolah hukum di UGM. Saya rasa benar bahwa demokrasi itu memerlukan sebuah kepercayaan yang sangat besar. Kita harus meruntuhkan otoritas semua orang dan membangun tembok baru, tembok keyakinan atas pilihan yang menurut kita paling baik. Tapi apa daya kalau ternyata tembok otoritas yang terbangun terbuat dari bahan yang tak dapat diruntuhkan. Terlalu kokoh.

Saya sempat berfkir. Dimana letak sebuah demokrasi jika kita pun tak pernah diberi kesempatan untuk membeli bahan-bahan untuk membangun sebuah tembok kepercayaan. Saya masih mempu membangun tembok masa depan saya. meskipun tembok yang orang bangun untuk saya terbuat dari berlian. Tapi ini tidak hanya membutuhkan sebuah kepercayaan. Tapi keyakinan. Bakat saya dalam bidang melukis sudah terlihat dari saya TK (Taman Kanak-kanak), saya sering mengikuti kejuaraan menggambar dan mewarnai. Sampai - sampai ketika SD saya mewakili provinsi untuk mengikuti kejuaraan lukis dan mendapat juara 2 tingkat nasional. Dan yang menjadi juara satu saat itu sekarang sudah menjadi peukis ternama di INDONESIA. Bedanya dia dengan saya adalah orang tuanya percaya atas pilihan yang diambil sehingga dia kuliah di ISI. sementara saya yang juara 2. hanya menjadikan itu sebagai hobi. melihat bakat itu ibu saya memasukkan saya ke sebuah kursus lukis di Surabaya. Lagi-lagi tujuannya hanya mengisi waktu luang dan kejenuhan. Karena seluruh keluarga saya adalah keuarga sibuk yang tidak pernah ada dirumah, Dari pada saya pulang sekolah tidak ada aktiviyas, lebih baik saya les lukis. Lagi-lagi orang tua saya menganggap ini hobi. Kejuaraan itu berlanjut, dan saya tidak hanya berprestasi tingkat nasional, tapi dunia. Saya sepat diberikan kesempatan untuk mempresentasikan lukisan saya ketika SMP di Manila Filipina. tapi orang tua lagi-lagi hanya menganggap ini hobi dan kegiatan ekstra. Jatuh cinta saya terhadap lukisan sudah mendarah daging, sehingga ketika saya lulus SMA, dengan menggunakan sertifiktat yang saya miliki. ISI menawarkan beasiswa kuliah di Seni Rupa gratis tanpa biaya sedikitpun. Tapi orang tua saya disaat saya merasa sudah dewasa dan berhak mengambil jalan hidup masih saja menganggap ini sebuah hobi. Alasannya simpel, keluarga saya seluruhnya pengacara dan seniman itu tidak ada yang sukses, minimal itulah kata keluarga saya, keluarga yang sudah menggariskan sebuah garisan budaya yang aneh pada jalan hidup bukan pada per orang dalam masyarakat kecil yang disebut keluarga.

Meskipn kios yang saya miliki masih sempit tapi saya yakin ini akan menjadi besar. saya meggantung semua piagam-piagam yang pernah saya dapatkan di bidang lukis tepat di tembok ruko ini. Jadi setiap konsumen yang masuk akan dapat melihat piagam itu secara langsung. Konsumen bisa langsung memesan lukisan yang ingin dilukis di kanvas kaos yang akan dibeli. Sebulan dampai setahun saya rugi dan tidak mendapat keuntungan. Tapi saya senang melakukan ini, mungkin saya hanya tinggap menambah inovasi agar bisnis yang saya jalani menjadi berkembang. Handphone saya berbunyi mengeluarkan tanda memo yang mengingatkan bahwa hari ini ayah dan ibu akan datang ke kios milik saya. Tapi saya akan tetap bangga memperkenalkan bisnis saya ini pada ibu saya. meskipun mereka tetap dan terus memaksa saya jadi pengacara dan bergabung bersama team mereka. Paling-paling ayah dan ibu akan menghina piagam yang sudah saya dapatkan dan mencemooh bisnis kecil yang tidak menguntungkan ini. Handphone ku berbunyi lagi dan bertuliskan bahwa ibu yang menelpon. Aku langsung mengangkat dan ibu mungkin sudah merasa malas untuk datang kekiosku. ibu mengajakku untuk bertemu di sebuah resto. resto tempat ibu meeting dengan kliennya.

Aku menutup kios yang juga menjadi tempat tinggalku saat aku memutuskan untuk hidp mandiri dari pada hidup di rumah bersama ayah tapi harus mengikuti otoritasnya menjadi pengacara. Aku menjaga toko ini sendirian.
Aku menemui ibu dan ayah disbeuah resto di surabaya, sementara ayah sedang menelpon hilir mudik dari sekitar meja makan, jadi hanya ada aku dan ibu. "Nak, apa kabar, sudah satu bulan ga ada kabar. Gimana usahamu nak? kenapa kamu tidak jadi pengacara saja. Tadi ibu telah bertemu klien, dia sedang menangani kasus tentang hak milik lukisan legendaris dari australia yang pemiliknya sudah meninggal. Lukisan nya sangat mahal. Jadi ibu harap kamu mau bergabung untuk menangani masalah ini, karena ibu yakin kamu sangat mengerti tentang lukisan. Ayolah nak, anggap saja kamu menangani kasus ini, karena kamu cinta dengan lukisan. bukan pada kasusnya". Ayah berhenti menelpon dan kami bertiga mengobrol serius saat itu. Hasil yang didapat aku membantu kedua orang tuaku menangani masalah sengketa lukisa itu dan seperti biasanya kasus itu sukses. Ayah menilai aku lebih berbakat menjadi pengacara hebat dibandingkan kakakku, sepupuku dan semua anggota keluargaku.
Ayah pernah mengatakan "ayah ini pengacara hebat, jadi ayah sangat tau bahwa kamu itu akan menjadi pengacara hebat nak. Kasus pertama yang kamu tangani itu saja bisa sukses besar. ayah bilang kamu hebat bukan karena kamu anak ayah. Tapi karena memang kamu hebat. Kamu akan sukses jadi pengacara dan kaya dari pada jaga kios kecil yang tidak ada apa-apanya".

Aku bosan dan muak dengan perkataan itu. Aku lebih memilih duduk menanti konsumen datang di toko kecil kumuh milikku dari pada berkantor mewah menjadi pengacara yang sebenarnya tidak aku inginkan. Yang aku cari adalah aku bahagia atas apa yang aku lakukan. Bukan menjadi kaya. Aku sampai tidak mengerti cara apalagi yang akan dilakukan keluarga saya untuk terus membujuk saya bergabung menjadi pengacara, sementara saya saat ini masih bahagia saja menjadi seorang bisnisman berasakan lukisan. Saya yakin dengan jalan yang saya buat saya akan sukses dengan cara saya sendiri. dengan kios kecil yang tidak menguntungkan. Tapi sangat membuat saya merasa berarti pada hidup ini dan menyisipkan sedikit asa dan kemungkinan bahwa saya akan sukses dengan jalan hidup yang saya rangkai dengan titik-titik pemikiran dalam tinta yang terletak pada sebuah keinginan, inovasi dan kerja keras yang tergores pada pemikiran, hati dan semangat yang tidak mengenal jam untuk diam dan tak bergerak.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apapun jalan hidup yang ditentukan oleh seseorang, hanya individu itu sendiri yang mengetahui. Orang disekitar hanya mengarahkan bukan memberikan keyakinan yang bersifat paksaan. Tiap manusia pasti tau apa yang membuat dirinya bahagia tanpa harus diberikan penilaian yang naif akan sebuah banyaknya harta yang dimiliki, tp seberapa senyum yang dimiliki saat merintis jalan hidup yang dirangkai dengan indah. Tanpa pakasaan dan diyakinkan oleh siapapun. Bukannya manusia itu memiliki hak individu untuk bahagia bukan? Apa yang menurut kita bahagia, belum tentu akan membahagiakan orang lain. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan rasa yang berbeda atas jalan hidup umatnya. Kebahagiaan itu bukan keuangan. keuangan juga bukan kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan sebuah keikhlasan yang digenggam dengan sebuah keyakinan. Hanya kita sendiri yang dapat meyakinkan diri kita untuk bahagia dan berjaya.
Silahkan komentarnya tentang cerita dari rekan saya atas sebuah pilihan hidupnya. Setidaknya dia sudah sukses, sukses untuk berani mengambil sebuah keputusan dan sukses meyakini dirinya sendiri bahwa dia akan berjaya dengan keyakinannya. Tidak semua orang berani mengambil jalan hidup yang dluar zona nyamannya. Tidak ada sukses yang diraih dengan jalan yang nyaman2 saja bukan.

Rabu, 10 April 2013

BUKAN SALAH SAYA

Siapa yang salah dan dipersalahkan?

 

 Kawan, sebuah retorika diri kadang menjadi sebuah tanda tanya yg tak bisa terjawab bukan? Apalagi membicarakan cinta, pasti jawabannya adalah tidak ada jawaban. Cinta begitu kuat mengekang, rasa nya sudah terlalu besar mempengaruhi alam pikiran. Dunia kita kadang sudah dikuasai dg cinta. Gimana utk yang jomblo? bukan berarti jomblo itu punya hak untuk memiliki dunianya sendiri kawan.

Aku kenal dia pada sebuah pertemuan. Awalnya aku bosan menghabiskan waktu hanya berdialog dan protes pada acara televisi yang membuat mata berkelopak hitam. Membosankan. Jadi aku pikir bukan sebuah kesalahan besar kalau mengikuti ajakan teman untuk hadir ke sebuah pertemuan. Hari itu begitu manis. Dan ternyata dia mengajak rekan wanitanya yang aku kira adalah pacarnya. Kalaupun wanita itu adalah pacaranya, aku pikir wanita bergigi gingsul ini menjadi selingkuhan ke 5 dari temanku itu. Menatapnya untuk pertama kali saja membuat aku berdecak dan mendadak buta. bukan buta warna kawan, tapi buta benar-benar buta, tak ada lagi wujud di sekeliling saya kecuali dirinya. Ditambah lagi dia malah terkesan untuk lelaki yg haus cinta seperti saya "memaksa" ngajak salaman dan berkenalan. DICATAT, bukan saya yang mengajak, tapi gadis hitam manis ini, bidadari yang dikirim Tuhan atau jangan2 disesatkan Tuhan menyelinap di hati saya. Fokus on the topic. Kami hanya menghabiskan berbincang sesaat. yah, kami berdua. Teman saya serasa menjadi penganggu malam itu. Acara dimulai dan saya memperhatikan dia memperhatikan acara ini. Fokus, begitu fokus dia memperhatikan. sampai aksi liarku tak membuatnya bergidik. Terima kasih Tuhan telah membuat hatinya memilih utk duduk disampingku dari pada di samping temanku yang juga temannya. Pertemuannya 3 jam, tp buatku ini seperti 24 jam dan aku ingin pertemuan ini dilanjutkan sampai 3 hari 3 malam. Acara yang terus kutatap, si hitam manis berlesung pipi.

Akhirnya dia gusar dan sadar bahwa aku sibuk mencari perhatiannya. atau bahkan dia merasa terganggu dan ingin pindah tempat duduk. Oh Tidak. Ternyata Tuhan memberinya petunjuk sekali lagi untuk mengajakku atau lebih tepatnya mengawali perbincangan malam itu. kata pertama yang aku ingat malam itu adalah "aku suka pembicaranya, dia keliatan cerdas, aku suka dengan orang yang keliatan cerdas". Oh My God. Tepat, sangat tepat. aku mencoba menghitung, sudah berapa banyak orang aku rasa yang bilang padaku kalau aku ini keliatan cerdas. "keliatan" kalau kenyataannya, hanya aku dan Tuhan yang tau. Atau jangan2 dia bicara seperti itu karena dia sadar juga, kalau aku terlihat cerdas. Tuhan benar-benar memberikannya petunjuk untuk memberikan petunjukku.

Acara selesai, 3 jam acara berlangsung tapi kami sama sekali tidak diberikan konsumsi. Acara yang payah, ops tidak. acaranya tidak payah. Acara si hitam manis berlesung pipi. Lagi-lagi Tuhan memberinya petunjuk untuk memperlama pertemuan kami. Wanita manis berlesung pipi ini ngajak makan malam karena lapar. Kalau aku si tidak lapar, sudah makan selama tiga jam acara tadi. makan si hitam manis dengan lauk lesung pipi. "Kalau bisa jangan tempat makan biasa, tapi yang enak buat nongkrong biar kita bisa ngobrol". Tancap gas dan tak mau menghabiskan waktu dengan berintonasi akan sebuah pilihan tempat makan.

Tiba di salah satu tempat nongkrong asik di jogja, kami memesan yg katanya menu paling spesial. tapi buatku menu hitam manis dg lauk berlesung pipi yang paling enak. Aku gak mau menceritakan tentang perbincangan malam itu, aku gak mau membuat orang lain merasa iri dengan kebahagiaanku malam itu. Yang pasti aku sangat kenyang, makan menu spesial hitam manis dg lauk lesung pipi. Aku memperhatikan gaya bicaranya. memperhatikan ketika mulutnya terbuka mengucapkan huruf 0, matanya menyipit ketika tertawa dan bibir menutup ketika tersenyu. Yah, aku memperhatikan semua itu. Makanan penutup yang paling enak kami santap malam itu adalah ketika dia mengatakan "gak tau kenapa aku mala ini ngerasa bahagia dengan kalian semua, thx kawan". What? dia bahagia sama saya malam ini? dia bahagia.

Waktu memang menjadi musuh paling terberat malam itu, dan aku pun tak mau menunjukkan arogansi untuk membuatnya lama bergadang karena wanita secantik dia terlalu aneh untuk bangun siang besok pagi. Dan yah, dengan gaya jalan lusuh aku bangkit dan tidak lupa membayar makanan lalu pulang. Kita bertiga ikut acara itu, tapi kami membawa motor masing-masing karena rumah kami yang berjauhan. Dengan gaya yang sok jual mahal, aku tak berbasa basi, tak menunjukkan betapa bahagianya aku malam itu, sama seperti yang dirasakan si hitam manis berlesung pipi. Dan akupun tak mau menunjukkan betapa sedihnya aku berpisah malam itu. Aku pun berharap acara sejenis akan ada lagi dijogja dalam beberapa waktu terakhir. Agar aku bisa bersamanya, dan terus mendampinginya. Ataukah aku harus mendirikan sebuah EO (Event Organiser) dan mengadakan acara sejenis selama 1 minggu sekali hanya untuk bisa bertemu dan mendampinginya. Omong kosong masalah kerugian acara, bersamanya sudah sangat menguntungkan. Kita berpisah dengan tiga arah berbeda malam itu.

Diperjalanan aku tidak memperdulikan ada yang teriak karena aku "meleng" membawa motor karena konsentrasiku terganggu. Aku lebih rela menabrak dengan alasan membayangkan wajahnya malam itu. Dahsyatnya romansa cinta. Hatiku bergidik, gusar tiba-tiba membayangkan dirinya pulang sendirian dengan malam selarut itu. Tanganku sangat nakal dan iseng membelokkan stang lalu memutar balik arah. YAH! aku akan mengantar gadis itu pulang hingga depan kosnya yang jauh dan sangat jauh. Bukan itu yang sebenarnya aku inginkan? memperlama waktu bersamanya? dan tanganku masih jahil mengarah ke mana gadis itu pergi dengan semakin nakal dan liar. Kecepatan tinggi. dan aku membenci waktu malam itu.

Aku belum terlambat. Dan sambil membawa motor dan menyembunyikan rasa malu utk beberapa detik untuk mengatakan "aku antar sampai kos yah, aku lagi males pulang juga ni, gak bisa tidur". Akhirnya aku berjaln dibelakangnya sampai tiba didepan kosnya. Aku memberhentikan motor didepan kosnya, tapi kenapa tangan ini kembali jahil. Dia tak mau memutar gas untuk berjalan pulang. Gadis itu menghampiriku. "Gimana? tadi dijalan udah ngantuk belum atau masih gak bisa tidur?". Aku terdiam dan hanya tersenyum. Aku juga aneh kenapa aku mendadak pendiam malam itu padahal perawakan sudah terkenal cerewet, tapi bibir seakan pandai menjalankan skenario malam itu. "Aku juga belum ngantuk kok, mau ngobrol? byk cemilan tuh dikamar, gak ada yg ngabisin. Aku gak suka makan". WOW!, Dia ngajak saya kekamarnya atau mengajak saya menghabiskan cemilannya? ambigu. dia tau dari mana kalau saya menginginkan keduanya? mungkin tubuh saya memang gak bisa boong kalau keliatan banyak makan. Akhirnya kita mengobrol sambil bercanda mengakrabkan diri. "Ternyata kamu asik yah, banyak omong, cerewet, Gak kaku". saya gak ngerti itu termasuk hinaan atau pujian. Yang jelas aku bahagia malam itu. Sudah jam 1 pagi, aku harus beranjakn dari depan teras kosnya dan menuju pulang ke kosku. Cukup. aku tak mau menceritakan bagaiman indahnya perjalanan pulangku malam itu, yang jelas, aku diiringi kereta kuda sampai didepan kos.

ITULAH PERTEMUAN PERTAMA KU,

Setelah saat itu, kami gak pernah ketemu karena dia sibuk sekali, mahasiswa semester 6, puncaknya kesibukan kuliah. Jadi aku maklum. Lagi-lagi gengsi ku menahan untuk mengajaknya ketemuan. Bukan sekedar gengsi, tp karena aku juga sangat mengerti dia. Suatu malam aku mendapat sms, "mas, ada acara gak? jalan yok, aku galau pengen curhat. mas "x" (yg ngajak aku dan dia ke acara seminar) gak mau diajak. sibuk dia. kita berdua aja yah". Tanpa berbasa basi aku langsung meng iyakan. Padahal hari itu adalah deadline terakhir aku harus revisi skripsi2ku karena besok paginya aku bimbingan dg dosen. ingat. dia lebih penting. Malam itu kita janjian di sebuah tempat makan yang sekaligus tempat nongkrong. Dia membuka pembicaraan dan aku menebak-nebak apa yang akan diceritakannya malam ini. mungkin masalah kuliah. Ternyata tidak. wajahnya tiba-tiba menggurat dan air mata menetes menghancurkan pemandangan indah lesung pipinya. Gadis ini, gadis hitam manis berlesung pipi yang malam ini aku tau ternyata giginya pun bergingsul menceritakan tentang sakit hatinya karena pacarnya. yah pacarnya. Ternyata dia punya pacar. Aku tersontak kaget. aku membuka telinga, menyumbat hati dan rasaku, serta memaksa bibirku mengeluarkan solusi dg bijak meski aku benci mengeluarkannya. Kenyataannya dia sudah punya pacar. Gadis ini terlalu suci untuk terus disakiti kekasihnya, tapi terlihat bhwa dia sangat mencintai kekasihnya dan gak mau berpisah. Akupun hanya bisa terdiam dan terus memaksa bibirku tertarik untuk tersenyum. Malam itu tak terlalu spesial. Aku kembali mengantarnya pulang tapi tak semangat untuk menambah waktu panjang mengobrol didepan teras kosnya seperti malam kemarin. Aku gontay dan merasa tak berotot malam ini. pulang ke kos dengan diiringi batu kerikil tajam dijalanan seperti sedang off road. terlalu menyiksa dan merepotkan.

SEIRING BERJALANNYA WAKTU

2 minggu sudah aku mengenalnya, dan selama dua minggu ini aku masih menyimpan rasa ini, dan tetap menemaninya. hubunganku dengannya sama seperti selayaknya sepasang kekasih meski dirinya memiliki label cinta dengan nama lelaki lain. Tapi itu kan cuma label yang tertempel. tpi aku selalu ada buatnya. Aku menemani dan selalu ada disampingnya setiap saat selama 2 minggu itu, tanpa memperdulikan siapa kekasihnya, tanpa memperdulikan label pada dirinya. Aku sangat nyaman dan ingin bersamanya. Itulah yang terpenting. Dan aku rasa dia juga nyaman bersamaku. Mungkin kekasihnya, kekasih yang selalu menyakitinya sibuk dengan kebusukan dirinya sendiri. Dan aku yang tetap menjadi juara disisi nya, aku selalu ada untuknya. tanpa haru ada yang tau dan dapat menjelaskan siapa aku baginya, Tapi aku yakin. Bahwa malaikat juga tau siapa juaranya. itu yang paling penting. Dia nyaman denganku dan aku nyaman dengannya. Itu lebih pantas dari harga sebuah label "pacar". Bukannya jodoh itu gak bisa tertukar bukan? Inilah cinta, penuh resiko dan tanda tanya. Jawabannya ada pada waktu yang kini membenciku.

 

Kamis, 04 April 2013

Mahasiswa "yg" Malang



Saya berbagi pengalaman yg saya alami di kampus saya tercinta, Fakultas Peternakan UGM.

Saya sangat menyadari sekali bahwa memang karakter sy sangat tidak baik, tidak sopan, kurang ajar, atau less behavior. Saya sangat sadar itu. Saya mungkin hanya dapat menyalahkan diri saya sendiri mengenai hal ini. Karena secara psikologis, mungkin hanya saya dan diri saya yang tau mengapa dapat begini dan sampai seperti ini dan bagaimana cara menanggulanginya. Karena hanya saya yang tau diri saya.

Saya mengambil Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan (Agribisnis Peternakan) karena saya merasa di sanalah saya memiliki keahlian dibanding 3 program studi lain di fakultas saya. Di ProgStud saya memiliki 2 laboratorium dimana dalam setiap laboratorium memilik 5 dosen pengampu. Yaitu lab. Agribisnis Peternakan atau ekonomi dan Lab. Komunikasi dan Pembangunan Peternakan atau sosial. saya merasa memiliki kemampuan dibidang ekonomi. Oleh karena itulah saya mengambil judul skripsi berbau desus ekonomi yang untuk beberapa orang sangat menyimpang dari Fakultas PETERNAKAN. "Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan nasabah (peternak) dalam meminjam kredit modal kerja di BPD DIY". Saya sangat tetarik dengan penelitian/skripsi mengena itu. Alasannya karena saya suka. Akhirnya Bu Tri Anggraini Kusumastuti (Bu Tutuk) yang jadi pembimbing 1 saya dan saya memilih pembimbing 2 dari Lab. Komunikasi dengan alasan rekomendasi dari pembimbing satu, lebih teliti dan agar dapat menambah pemikiran baru karena berbeda lab. Siti Andarwati. Saya senang, pembimbing pun senang dg judul skripsi saya. Skripsi saya sangat bagus dan pembimbing akan mempublish skripsi saya di buletin UGM karena skripsi saya yang luar biasa. Sayapun bangga. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas disini.

Pembimbing 1 sudah ACC skripsi saya setelah sekian lama dan cukup membawa kegalauan yg hebat, namun saya bangga lagi. Beralih kepembimbing kedua, beliau mengajak diskusi untuk koreksi yg kedua kalinya. dan beliau mengatakan:
"Ibu sudah koreksi secara garis besar skripsi mu. Benang merahnya masih belum nyambung. Karena ibu berbeda pemikiran dengan bu Tutuk, jd klo dipaksakan akan sangat lama, jd kamu siap2 langsung ujian saja. Bu Tutuk (Tri Anggraeni) pun sudah cukup sabar. Semua dosen Ekonomi, gak ada yg suka dengan kamu, ibu yakin kamu tau itu. Mereka semua sudah ngomong dengan ibu. Jadi ibu yakin kalau kamu ujian nanti, kamu bisa saja gak dapet A. atau bahkan gak lulus, karena mereka sudah gak subjektif dengan kamu. Jadi pressure kamu lebih tinggi dari mahasiswa lainnya. Kamu harus ujian dg baik, baik aja belum tentu A. apalagi gak baik. Sekarang ibu langsung tanya, menurut anton, skripsimu gimana? kalo kamu sudah siap ujian tinggal bilang aja dg ibu. nanti ibu langsung ACC dan kamu ujian. terserah kamu aja maunya kapan. Ibu dan bu tutuk ini dosen yg paling sabar di Fakultas ini pun sudah gemes sama behaviour kamu. Kamu ngerasa ada yang salah gak dengan sikap kamu. Kamu tu kurang ajar dengan semua dosen. Sekarang kamu buat draft saja utk persiapan ujian. Ini ibu kasih draftnya, dan kamu harus menguasai ini/ kalau kamu udah menguasai ini, baru ibu acc. Ibu ini sudah baik kekamu. Mungkin klo dosen lain akan cuek ke kamu. dan ibu pun bilang ke bu tutuk yg sudah mau nyerah dg kamu "sabar aja bu, kalau kita pun nyerah, trus siapa lagi yg mau bimbing dia".
Satu jam setengah saya diskusi dg bu andar. Kalimat diatas hanya ringkasan. Banyak hal lain yg beliau ungkapkan. Beliau lebi menasihati akan memang kepribadian saya yang harus di perbaiki. dan sayapun tertunduk dan mengakui itu. Nasihat beliau luar biasa. Dan kalimat terakhir yg keluar
"Anggap saja hari ini hari terburukmu, tp ibu yakin kalau kamu gak akan bisa melupakan hari ini ketika kamu sukses nanti. Jadikan sikap burukmu itu pelajaran utk perubahan kamu".
Kalau dibilang down, jelas down. Rasanya mau berenti kuliah. seperti yg sy bilang diawal. perjuangan utk bisa di ACC dengan bu tutuk aja butuh perjuangan yang sangat membuat aku stres. Aku keluar dr ruangan dan menyendiri.

Satu hal yang aku lakukan saat itu adalah insropeksi tentang diriku, tentang skripsiku, tentang kuliahku, tentang masa depanku, tentang keluargaku, dan tentang tentang.

Aku mencoba analisis apa yg membuat 5 dosen ekonomi tdk suka dg ku, ini hanya dugaanku saja yg mungkin membuat mereka marah sama saya, karena kita harus menyadari kesalahan utk dapat memperbaikinya. Semoga sy bisa instropeksi, dapat dapat merubah diri saya:

1. Prof. Sudi : Awalnya saya memilih beliau untuk jadi pembimbing 1 dan bu tutuk pembimbing 2. Sudah 2 bulan berjalan dan menginjak tahap ACC proposal penelitian, ada masalah. pemikiran beliau berbanding terbalik dg bu tutuk. dan saya rasa ini membahayakan. Beliau ingin A, bututuk ingin Z. Mungkin beliau merasa kesal karena saya ini orgnya ngeyelan dan susah utk diberitahu. tp setelah sy menimbang menurut saya bu tutuk lebih sesuai dengan penelitian yang saya mau. lebih satu pikiran. konsep kitapun sama. sampai akhirnya Bu Sudi berkata sampai sudah kesalnya
"Kalau ibu maunya begitu, ibu ini udh puluhan tahun ngajar, jd ibu tau nya begitu. kalau kamu pertahankan itu, itu akan salah. Kita ini Fakultas Peterakan, bukan Fakultas Ekonomi. Ibu ini sudah pengalaman dengan penelitian seperti ini. Kalau kamu masih mau dg ibu, yah begitu konsepnya. Kalau ngeyel punya aturan sendiri, silahkan cari dosen lain. Ibu sudah gemes ngasih tau kamu".
dengan tegas dan sedikit kesal aku jawab
"terima kasih bu, kalau ibu sudah nyerah, sy minta maaf bu, nanti sy cari dosen lain saja".
Aku keluar ruangan dengan rasa kecewa. sampai detik ini beliau kalau ketemu saya seperti acuh, mungkin sy sudah terlalu menyakiti hati beliau. sy minta maaf ya bu

2. Dr. Rini : Dosen ini dosen dewa, gak mungkin marah dengan saya. Keibuan banget, baik banget. lagian saya juga gak akrab dengan beliau. saya gak dibimbing beliau. karena beliau gak mau. sudah penuh bimbingan mahasiswa. Sudah Full.

3. Dr Suci : Beliau mantan pembimbing PKL saya, dan beliau memang tidak suka dengan saya karena menurut beliau saya kurang ajar dengan beliau. Beliau sempat minta ganti penulisan nama lengkapnya di Laporan PKL, saya sudah rubah dan yakin sudah merubahnya. tp kenapa yg tertempel di laporan tetap nama yg salah "paramitha" dengan "paramita". mungkin saya teledor. padahal beliau sudah mengultimatum saya betapa pentingnya kebenaran nama dalam sebuah dokumen penting. Yah setelah kerja keras. PKL sayapun di ACC. Sama seperti bu sudi. setiap ketemu saya pun, saya senyum, beliau acuh. kata bu andar beliau pernah bilang
"gimana skripsi anton? saya penasaran sebagus apa skripsi dia. kalau udah selesai saya mau jd penguji skripsi dia".
DAMN! Dulu saya juga sempat meminta beliau jd pembimbing skripsi saya karena saya ditolak dengan bu Sudi. Beliau malah mengalihkan ke dosen lain dg alasan dosen lain lebih menguasai materi. beberapa hari kemudian beliau bilang
"alasan sy menolak sebenarnya bukan karena sy tidak paham tentang skripsimu. karena saya males jd pembimbingmu dan menurut sy bu ani lebih tepat menghadapi orang seperti kamu".
Lagi-lagi sy tertampar dan instropeksi diri. sudah ada 2 dosen menilai sy ini buruk. dan saya tidak mau memilih bu ani, karena bu sudi bilang, bu ani belum boleh menjadi pembimbing karena masih baru. Bu Suci tau kalau saya gak pilih bu Ani. MUNGKIN beliau tidak suka dan beranggapan saya merendahkan bu Ani. Bu Suci dan Bu Ani ini sudah Soul Mate banget.

4. Dr Tutuk : Ini dosen sama kayak bu Rini. Sabar dan Jawa Banget. Love her. saya pilih beliau dari pada bu Rini, karena beliau lebih mengerti tentang Bank menurut saya. Love her against. Saking baiknya, saya merasa bahwa skripsi saya beliau yang buat, bukan saya. memang tidak mendidik sih. ya ada untung dan ruginya. Dosen paling sabar seperti inipun pernah kesal dg sy. Sy pun sampe mikir kenapa yah.

5. Ani, Ph.D : Beliau dosen muda dari yg lain. saya tidak mau milih beliau karena bu Sudi pernah bilang klo beliau belum bisa jd pembimbing, Ternyata sudah bisa. Padahal menurut saya meskipun muda, beliau keren dan saya cocok dg kepribadian beliau. Bu Suci benar pernah bilang kalo saya cocok di bimbing beliau. saya juga punya masalah dengan beliau. waktu matakuliah seminar, saya mempresentasikan proposal skripsi dengan apa adanya karena bebentrok waktu yg tidak memadai. beliau pun menganggap penelitianku bagus tp aku gak ngerti apa-apa. Namanya persiapannya asal-asalan. dr pada gak presentasi. ternyata dibelakang saya, beliau menghadap Bu Suci yang merupakan mantan calon pembimbing saya. Tujuan beliau utk tanya ke Bu Suci perihal ke kacau an proposal penelitian saya yg sy seminarkan. Bu Suci Kecewa. Karena Bu Suci jelas menolak saya, tapi malah saya nekat mengumumkan di audience kalo Bu Suci pembimbing saya saat seminar proposal skripsi. lagi-lagi karena saya gak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa. Ternyata Bu Suci Bilang
"saya belum menyatakan setuju utk jd pembimbing anton, kok dia gak sopan mencantumkan nama saya sebagai pembimbing di saat presentasi seminar skripsi". Lagi-lagi saya instropeksi diri.

Saya mengambil langkah keluar ruangan bu Andar setelah diskusi ke dua. Dan saya mulai fokus dan mencerna kata2 Bu Andar yg luar Biasa. Jadi saya mengoreksi skripsi saya sendiri dan meminta bantuan teman2 yang mau koreksi skripsi saya. Saya belajar sendiri dan mandiri sampai saya merasa ke diri saya, saya siap ujian. dan saya akan ke Bu Andar untuk minta ACC dan saya terpaksa ujian dengan keadaan yang mengkhawatirkan. yang hanya bisa menyelamatkan saya, semoga penguji saya keduanya tidak dari lab ekonomi dan bukan dari bagian dari dosen yang tidak suka dengan saya. Tuhan tau kok kalau saya bersungguh-sugguh. Dan saya hanya minta yang terbaik dari Tuhan. Dan Tuhan tau bahwa saya sangat belajar dari semua ini.

Itulah cerita dari analisis saya, lagi-lagi itu hanya pemikiran sy pribadi yg mungkin menyebabkan mereka gak suka saya. sy mau tidak mau akan instropeksi bukan hanya utk skrips ini. tp untuk hidup kedepan. bagaimana kalau kalian jadi saya? Stres? Mau bunuh diri? Atau apa yang kalian lakukan? Yang menjadi pemikiran saya hingga saat ini adalah. Kok dampak nya sampai sebegini hebat yah? Saya juga mahasiswa yang tidak hanya butuh di ajari tapi butuh di didik. Bu Tutuk dan Bu Andar memang the best buat saya. Karena memang orang terbaik yang dipilih Tuhan untuk Saya. Saya memang tidak bisa membalas apa-apa. Tuhan yang tau betapa saya mencintai Ibu. Terima kasih untuk menjadi yang terbaik buat mahasiswa terburuk seperti saya.

Saya menulis ini hanya curhat tanpa bemaksud apapun. Ada kepuasan pribadi. Silahkan komentarnya.