Indah

Memulai cerita hari ini dengan sebuah kata terindah. "Perjuangan"

Jumat, 10 Juli 2015

Dalam Penglihatanku



Dalam penglihatanku
sosok tergiur melihat dubur bersolek
merajai hati terbungkus bangkai
yg dipoles oleh lendir menjadi pesek
dan setiap orang nyinyir meracai

Dalam penglihatanku
Laki-laki tua berdusta pada ratunya
Anak muda bergaul salah arah
Anak kecil malah jadi saksi mata
Dan pemuda gagah mencari perawan berdarah


Dalam penglihatanku
Rokok menjadi primadona teras
Minuman alkohol laku keras
Ayat menjadi musuh
azan malah dibunuh

Dalam penglihatanku
Daging terbayar murah
Harga diri dibayar mati sudah
hati dan perasaan tak berteman
apalagi kesopanan?

Dalam penglihatanku
Aku membuka mata pelan
inilah kampung halaman
harusnya diidamkan
bukan terhinakan

Aku menggaris diri memasang pengaman,
mencoba menerima kenyataan
pada hidup, pada proses keremajaan
mempertaruhkan masa depan

Kampung halamanku
ku cintai karena mau tak mau
dalam penglihatanku

*Lokalisasi Pemandangan Kecamatan Panjang Bandar Lampung

Sabtu, 11 April 2015

Masa Lalu

Kalau saja waktu bisa diputar. melihat keindahan yang nampak dari kejauhan. mungkin saja tiap saat kita dengan mudahnya dapat kembali ke masa lalu
dan memperbaiki segalanya. Jika semua terjadi, bisa saja waktu tak memiliki arti.

Hari ini kita dihadapkan pada kenyataan, nasib dari kumpulan kisah demi kisah masalalu yang berbelok menjadi dua jalur yang berbeda.
Kuncinya adalah kalau dia bisa bahagia, kita jg pny hak yang sama. Apakah masalalu bisa mengajariku arti sebuah janji dan kejujuran?
kesadaran manusia memang terbatas pada emosi yang memuncak tajam membakar seluruh nafsu dan keinginan. sehingga dia lupa
bahwa setiap kebutuhannya berteriak mengajak dan memanggil pada masa depan. kita hanya disibukkan dg eforia kisah masa silam

Berjalan kedepan dengan kepala menengok kebelakang adalah bukan hal yang mudah. seolah seperti pesakitan yang tetap abadi dan rintangan
tak berhenti datang. terselandung, tertabrak dan terpleset. karena kita tak dapat menengok kedepan. meskipun raga sudah berjalan bersama waktu.
apa yang salah? apakah kita terus2an menyalahkan kisah masa lalu? apa yang menjamin dirimu bahwa tak ada lagi keindahan dari sebuah penyesalan
di masa lalu? pertanyaan singkatnya. lebih baik kita diam tak berjalan namun mata kita fokus melihat kedepan? atau berjalan kedepan dengan posisi muka melihat ke belakang?

Kau tak akan pernah tau ada ribuan orang yang menunggu di depanmu. Kau tak akan pernah tau kalau disampingmu ada orang yang setia menuntun jalanmu kedepan, berbisik padamu agar kau tak terselandung, tak tertabrak, dan tak terplesert. kau tak akan pernah tau siapa orang yang membantumu itu. kalau kau berjalan, masih menengok kebelakang.

Diamlah sejenak, jangan lanjutkan kisah perjalananmu. duduklah. tertunduklah. merenunglah. karena kau memang perlu untuk itu. menangislah bila perlu. terus kau nikmati penyesalan masa lalumu. terus kau lakukan sampai kau tersadar bahwa disaat kau tertunduk merenang, ada seseorang yang sudah membelaimu. menjaga agar kondisimu tak lebih parah dari itu. dan org itu akan mengangkat dagumu menengadah tegas. lurus dan memandang tajam kearah depan. dan menyadarkanmu, bahwa kau sudah menghabiskan waktu lama yang tak perlu. hingga akhirnya kau merasakan ada pemandangan yang jauh lebih indah pada masa depanmu. hingga akhirnya kau dapat menghela udara bebas hidupmu. hingga akhirnya kau dapat berjalan tegas dengan penuh semangat kedepan. hingga akhirnya kau sadar, bahwa kau terlalu lama menyia2kan orang yang selalu ada buatmu dan terlupakan karena sibuknya dirimu dg masalalu. hingga akhirnya kau sadar, bahwa ada orang yang Tuhan berikan namun sengaja untuk disembunyikan. Hingga akhirnya kau sadar untuk terus menggandengnya dan membutuhkannya untuk perjalananmu di masa yang suatu saat akan mengatakan padamu akan tidak pentingnya masa lalu. Tuhan memang memberikan yang terbaik pada ujung perjalanan. untuk apa? untuk kita tau pedihnya rasa sakit dan belajar dan menjadi lebih baik.

Rabu, 03 Desember 2014

Rapuh

Mungkin salah kalau saat ini saya menuntut Tuhan agar diberikan semua apa yang saya inginkan. Seorang calon istri idaman. Jabatan dengan gaji di tempat kerja sesuai impian. Bahkan kehidupan keluarga dengan keadaan cukup jasmani dan rohani. Semua ini rasanya asa dalam senja. Semua sudah terbenam saat perjuangan merasa tak dihargai. Tapi saya yakin Tuhan saat ini tau bahwa saya sudah melakukan semuanya dengan maksimal. dengan semua kemampuan yang saya punya.

Kejadian-demi kejadian membuat saya berpikir betapa bermaknanya sebuah kehidupan. dan setidaknya saya lebih menghargai detik waktu berjalan demi sebuah kepastian.

Saat ini saya tidak hanya menulis kata-kata pada blog ini. namun saya berdiskusi dengan Tuhan sesuai pola dan aturan yang saya miliki. Tuhan. Sampai kapan saya akan terus begini. Sampai kapan saya akan terus berpurapura tegar dalam rapuhnya jiwa ini. Kehidupan yang saya jalani penuh dengan kepura-puraan. semua harus tau bahwa saya sangat bahagia. dan penderitaan menjadi sahabat yang erat dihati saya.
Karena terlalu banyak hal yang menjadi beban hingga saya pun bingung mana yang terlebih dahulu ingin saya adukan. Semua hanya menjadi kisah yang berujung pada pasrah.

Tuhan, kendalikan diri hamba pada kepalsuan yang membawa hamba pada suatu ketidak benaran. Izinkan hamba untuk bertanya dan meyakinkan diri ini. Apakah aku sanggup untuk melanjutkannya?
Aku berdiri pada kabut asap perapian. nafas menjadi sesak dan masa depan tak nampak. Hidup terasa panas dan tubuh kotor terkena debu. Saat aku mulai melangkah kesisi lain, yang aku temukan hanya perapian-perapian yang lainnya. Dan tentu masih menyisakan sebuah keyakinan, bahwa ada danau nan indah diujung perapianku. dan itulah alasanku untuk menjawab bahwa aku mampu bertahan.